Showing posts with label Kuliah. Show all posts
Showing posts with label Kuliah. Show all posts

Sunday, April 07, 2013

Memahami Meta-analisis



MEMAHAMI META-ANALISIS

            Pada hari itu, tanggal 2 April 2013 Dosen pengampu kami Bapak Prof.Sitepu memberikan kami tugas walaupun pada waktu itu Prof berhalangan hadir karena suatu hal, dan digantikan oleh Asdos nya Kak Mitha, lalu seperti biasa kami diberikan waktu untuk berdiskusi mengenai penelitian yang terdapat dibuku Review of the research in Educational Technology, dilanjut dengan presentasi dari Tim penyaji dan diberikan lagi Tes Penguasaan oleh kak mitha, pada waktu itu otak udah panas. Walaupun saya tahu ini baik untuk kami, namun pada prosesnya hal tersebut memang membosankan. Pada soal tersebut terdapat 5 pertanyaan dan dari 5 pertanyaan tersebut ada pertanyaan yang tidak saya mengerti yaitu mengenai meta-analisis tersebut. Bukan berarti saya dapat menjawab ke empat soal dengan mudah, TIDAK. Saya justru bingung dan aneh. Kok perasaan saya masuk terus tapi ketika diberi pertanyaan yang sebenarnya saya tahu jawabannya saya malah bingung.
            Setelah selesai, lalu kak mitha memberikan kami tugas kembali untuk mencari apa itu Meta-Analisis. Sepertinya bapak tahu kalau kami belum membaca mengenai hal tersebut dan sengaja memberikan soal tadi di tes penguasaan tersebut agar kami membacanya dan memahaminya. Lalu diberikanlah tugas mencari apa itu Meta-analisis, dengan catatan ditulis tidak kurang dari 1000 kata dan ditampilkan dalam blog kami. Maka dari itu sayapun mencari dan menemukan jawaban dari hal tersebut.

WHAT IS META-ANALYSIS?

            Meta-analysis (meta-analisis) adalah statistical prosedur untuk mengkombinasikan data dari berbagai macam ilmu (studies) . Ketika hasil dari treatment atau perlakuan yang kita berikan (effect size) berhubungan dan konsisten dari satu ilmu ke ilmu yang lain, meta-analysis dapat digunakan untuk mengidentifikasi hal umum yang terjadi dari berbagai penelitian tersebut. ketika berbagai efek atau hal umum tersebut berkaitan antara satu ilmu dengan ilmu lainnya, maka meta-analisis dapat digunakan untuk mengidentifikasi alasan atau penyebab dari suatu hal tersebut.
            Menurut Merriyana (2006: 104)  secara sederhana meta-analisis dapat diartikan sebagai analisis atas analisis. Sebagai penelitian, meta-analisis merupakan kajian atas sejumlah hasil penelitian dalam masalah yang sejenis. Meta-analisis merupakan salah satu cara membuat rangkuman hasil penelitian secara kuantitatif. Gagasan meta-analisis muncul dari Glass (1976) disajikan pada penemuan psikolog Amerika. Meta-analisis ingin menjawab pertanyaan: apakah ada perbedaan antara kelompok percobaan dan kelompok pembanding, jika didasarkan dari hasil-hasil penelitian yang terus bertambah dari  tahun ke tahun” (Sutrisno, 2007: 4-9).
            Meta analisis merupakan analisis kuantitatif dan menggunakan sejumlah data yang cukup banyak serta menerapkan metode statistik dengan mempraktekkannya dalam mengorganisasikan sejumlah informasi yang berasal dari sampel besar yang fungsinya untuk melengkapi maksud-maksud lainnya (Glass, 1981).  Dengan kata lain, meta analisis adalah suatu bentuk penelitian kuantitatif yang menggunakan angka-angka dan metode  statistik dari beberapa hasil penelitian untuk mengorganisasikan dan menggali informasi sebanyak mungkin dari data yang diperoleh, sehingga mendekati kekomprehensifan dengan maksud-maksud lainnya.Salah satu syarat yang diperlukan dalam melakukan meta analisis adalah pengkajian terhadap hasil-hasil penelitian yang sejenis.
            Meta analisis adalah suatu analisis integratif sekunder dengan menerapkan prosedur statistik terhadap hasil-hasil pengujian  hipotesis penelitian.  Menurut Glass (1981), analisis sekunder itu merupakan analisis ulang (reanalysis) terhadap data untuk tujuan menjawab pertanyaan penelitian dengan teknik-teknik statistik yang lebih baik atau menjawab pertanyaan-pertanyaan baru dengan data lama yang dimiliki.  Analisis sekunder merupakan suatu ciri-ciri penting terhadap riset dan kegiatan evaluasi.Soekamto (1988) mengatakan bahwa sifat meta analisis antara lain kuantitatif, dan memakai analisis statistik untuk memperoleh seri informasi yang berasal dari sejumlah data dari penelitian-penelitian sebelumnya. Menurut Borg (1983) bahwa, meta analisis merupakan teknik pengembangan paling baru untuk menolong peneliti menemukan kekonsistenan atau ketidakkonsistenan dalam pengkajian hasil silang dari hasil penelitian.
            Meta-analisis merupakan studi dengan cara menganalisis data yang berasal dari studi primer. Hasil analisis studi primer dipakai sebagai dasar untuk menerima atau mendukung hipotesis, menolak/menggugurkan hipotesis yang diajukan oleh beberapa peneliti (Sugiyanto,2004). Lebih lanjut dikatakan oleh Sutjipto (1995) bahwa meta-analisis adalah salah satu upaya untuk merangkum berbagai hasil penelitian secara kuantitatif. Dengan kata lain,  meta-analisis sebagai suatu teknik ditujukan untuk menganalisis kembali hasil-hasil penelitian yang diolah secara statistik berdasarkan pengumpulan data primer. Hal ini dilakukan untuk mengkaji keajegan atau ketidakjegan hasil penelitian yang disebabkan semakin banyaknya replikasi atau verifikasi penelitian,yang sering kali justru memperbesar terjadinya variasi hasil penelitian.
            Menurut Bruce G Charlton dalam bukunya “The Uses and abuse of meta-analysis (1996;13:397-401). Meta-analisis adalah proses kuantitatif dari hasil dan interpretasi yang melibatkan pengumpulan informasi dari penelitian–penelitian suatu disiplin ilmu yang menggunakan tema yang sama dalam penelitiannya dan mengambil kesimpulan dari hal tersebut. Hal yang paling dibanggakan atau the prestige dari meta-analisis ini berasal dari kegagalan model yang digunakan oleh para peneliti. Menginterpretasikan penelitian empirik merupakan suatu hal yang sangat kompleks yang membutuhkan pengetahuan baik klinis maupun secara ilmiah. Maka dari itu jangan salah, Meta-analisis bukanlah kegiatan mencoba menghipotesiskan suatu hal, penggunaannya lebih kepada meningkatkan presisi dari penelitian-penelitian yang ada.

WHY DO META-ANALYSIS?

            Pengambilan keputusan terhadap suatu penelitian tidak bisa didasarkan oleh satu penelitian saja dan dari satu disiplin ilmu saja, karena hasil dari penelitian yang menggunakan tema penelitian yang sama dapat memberikan hasil yang berbeda. Maka dari itu diperlukan mekanisme yang dapat mensintesiskan data dari berbagai macam disiplin ilmu tersebut. Penggunaan review dari para ahli (Narative Review) telah digunakan untuk menanggulangi hal tersebut. Namun, Review dari para ahli tersebut bersifat subjektif karena berbeda ahli berbeda pula pengalaman empiriknya dan pasti berbeda pula hasilnya.  Dan hal tersebut menjadikan Narative Review tidak memungkinkan dan sulit untuk dilakukan ketika berbagai macam disiplin ilmu disatukan. Maka dari itu Meta-analisis digunakan dengan mengaplikasikan formulanya yaitu mengaplikasikan berbagai data statistik menjadi satu kesatuan dan dapat digunakan dengan bermacam disiplin ilmu lainnya.

HOT TO DO META-ANALYSIS?

            Penelitian meta analisis ini merupakan penelitian yang menggunakan data sekunder berupa data-data dari hasil penelitian sebelumnya  Dengan demikian penelitian ini dapat disebut sebagai penelitian yang bersifat ex post facto yang berbentuk survey dan analisis kepustakaan terhadap penelitian-penelitian yang telah dilakukan.

Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk melaksanakan suatu meta analisis:

1) Glass (1981) = fokus pada deteksi dari moderator variabel.
2) Hedges dan Olkin (1985) = memakai teknik weighted least squares
3) Rosenthal dan Rubin (1991) = sama seperti Hedges-Olkin, bedanya hanya pada test
    signifikansi untuk mengkombinasikan effect size
4) Hunter dan Schmidt (1990) = bedanya dengan yang lain adalah metode ini berusaha
    mengkoreksi error potensial sebelum meta-analysis mengintegrasikan effect study
    antar studi.

            Tehnik Hunter dan Schmidt lebih sering digunakan karena teknik ini dianggap oleh para peneliti sebagai teknik yang  paling lengkap, karena selain dapat dipergunakan untuk mengkaji effect size, teknik Hunter Schimidt dapat juga dipergunakan untuk mengkoreksi kesalahan sebagai akibat error of measurement, maupun man made error (artifact) yang lain.

Dalam upaya melakukan sintesa dari beberapa penelitian, terlebih dahulu dilakukan koreksi terhadap artefak atau ketidaksempurnaan penelitian (Sugiyanto,2004). Hunter & Schmidt (1990) menyebutkan sedikitnya ada 11 artefak yaitu:
1.  Kesalahan pengambilan sampel
2.  Kesalahan pengukuran pada variabel dependen
3.  Kesalahan pengukuran pada variabel independent
4.  Dikotomi variabel dependen
5.  Dikotomi variabel independent
6.  Variasi rentangan dalam variabel independent
7.  Artefak atrisi
8.  Ketidaksempurnaan validitas konstruk pada variabel dependen
9.  Ketidaksempurnaan validitas konstruk pada variabel independen
10.Kesalahan pelaporan atau transkripsi
11.Varians yang disebabkan oleh faktor luar.

Sebagai Gambaran bagaimana melakukan Meta-analisis, Menurut Glass (dalam Sutrisno, 2007),
1.      Dimulai dengan mentapkan domain penelitian yang akan ditelusuri. Penetapan domain itu dapat dilakukan berdasarkan variabel bebas, variabel terikat, atau hubungan sebab akibat
2.      Memilih jenis publikasi yang akan dikumpulkan misalnya buku teks, laporan hasil penelitian, artikel yang ditulis untuk jurnal, makalah yang disampaikan dalam seminar, monogram dan lain-lain.
3.      Penentuan batas waktu atau periode publikasi itu. Pembatasan periode waktu perlu dilakukan bukan hanya untuk kepentingan praktis tapi juga untuk kekhassannya.
4.      Mengumpulkan litetatur dan diambil intisarinya. Yang harus diperhatikan dalam melakukan meta-analisis adalah Peneliti perlu mencatat variabel bebas dan variabel terikat beserta definisi konseptual dan definisi operasionalnya, serta sejumlah variabel metodelogi, misalnya jens penelitian, cara pengambilan sampel, statistik yang digunakan dalam analisis, jenis instrument dan karakteristiknya.
5.      Menghitung effect size per sumber dan setelah itu selesai, peneliti dapat menganalisis effect size ini menurut jenis variabel bebasnya dan variabel metodelogi yang digunakan
6.      Setelah semua selesai maka dapat dilanjutkan dengan pembuatan laporan. 

PLUS AND MINUS OF META-ANALYSIS
PLUS 

1.      Karena merupakan pendekatan kuantitatif, maka banyak mengambil sampel, sehingga hasil bisa lebih representatif. Hasil akhirnya dinamakan “effect size”.
2.      Meta-analysis memungkinkan mengkombinasikan berbagai macam hasil penelitian yang telah ada sebelumnya.
3.       Metode ini fokus pada pengakumulasian impact dari hasil-hasil yang tidak signifikan sehingga bisa menghasilkan suatu hasil yang signifikan.
4.      Metode ini juga dapat menjwab pertanyaan seputar kesenjangan hasil yang terjadi dari studi yang bermacam-macam.

MINUS

1.      Karena banyaknya sampel yang diambil, maka kemungkinan akan terjadi/memiliki sampel –sampel yang bias serta data-data yang tidak perlu (sampah).
2.       Meta-analysis seringkali membuat hasil yang dipublikasikan hanya yang signifikan saja,  sedangkan yang tidak signifikan tidak dipublikasikan.
3.       Metode bersifat meng-aggregat-kan serta merata-ratakan sesuatu. Jadi sesuatu yang
4.       berbeda bisa jadi dipandang sama oleh metode ini.
5.       Metode ini tidak cocok diterapkan bila sampel datanya kecil.
6.       Bisa saja terjadi metodological error.

CONCLUSION

            Meta-analisis adalah proses kuantitatif dari hasil dan interpretasi yang melibatkan pengumpulan informasi dari penelitian–penelitian suatu disiplin ilmu yang menggunakan tema yang sama dalam penelitiannya dan mengambil kesimpulan dari hal tersebut. Hal yang paling dibanggakan atau the prestige dari meta-analisis ini berasal dari kegagalan model yang digunakan oleh para peneliti. Menginterpretasikan penelitian empirik merupakan suatu hal yang sangat kompleks yang membutuhkan pengetahuan baik klinis maupun secara ilmiah. Maka dari itu jangan salah, Meta-analisis bukanlah kegiatan mencoba menghipotesiskan suatu hal, penggunaannya lebih kepada meningkatkan presisi dari penelitian-penelitian yang ada.

SOURCE
http://fampra.oxfordjournals.org/content/13/4/397.full.pdf
http://www.wilderdom.com/research/meta-analysis.html
http://syehaceh.wordpress.com/2008/05/15/konsep-meta-analysis/
http://chatroks.blogspot.com/2012/09/meta-analisis.html
http://www.meta-analysis.com/pages/why_do.html

Tuesday, October 09, 2012

Pedoman Teks Buku Pelajaran

Tugas Mata Kuliah Pengembangan Bahan Ajar Cetak
Tim Penyusun: Bayu Febriawan, Dzaky Mubarok, Hari Sugiarto
A.PENDAHULUAN
Buku merupakan salah satu media penyampaian informasi yang masih populer digunakan hingga saat ini. Dalam konteks pendidikan buku sangat berperan penting dalam proses pembelajaran seseorang. Buku teks pelajaran menjadi salah satu sumber ilmu pengetahuan dan informasi selain dari guru. Oleh karena itu dalam penulisan buku teks pelajaran haruslah dipahami secara benar bagaimana caranya, agar informasi yang disajikan didalam buku menjadi lebih bermanfaat. Dalam tugas Pengembangan bahan ajar cetak kami menganalisis 5 artikel yang berkaitan dengan cara penulisan buku teks pelajaran berikut link kelima artikel yang kami analisis
Artikel 1, Cara Praktis Membuat Buku Ajar Bagi Guru
Artikel 2, Judul: Buku Ajar
Artikel 3, Judul: Buku Ajar
Artikel 4, Judul: Teknik Menyusun Buku Teks
Artikel 5, Judul: Menulis Buku Pelajaran Sekolah
Setelah menganalisis kelima artikel diatas tentang bagaimana membuat buku teks pelajaran kami membahas lebih dalam hal-hal apa yang perlu diperhatikan dalam membuat buku teks pelajaran.
B. PEMBAHASAN
Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional no.2 tahun 2008 tentang buku, Buku teks pelajaran pendidikan dasar, menengah, dan perguruan tinggi yang selanjutnya disebut buku teks adalah buku acuan wajib untuk digunakan dalam satuan pendidikan dasar dan menengah atau perguruan tinggi yang memuat ketakwaan, akhlak mulia, dan kepribadian, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi , peningkatan kepekaan dan kemampuan estetis, peningkatan kemampuan kinestetis dan kesehatan yang disusun berdasarkan standar nasional pendidikan.
Dari 5 artikel yang kami analisis terdapat banyak yang perlu diperhatikan dalam penulisan buku meliputi penulisan naskah, penerjemahan, penyaduran, pengilus-trasian, penyuntingan, dan/atau perancangan yang menghasilkan produk akhir berupa karangan asli, terjemahan, saduran, dan ciptaan lain berupa gambar, sketsa, tabel, grafik, dan/atau peta.
Dari hasil wawancara kami dengan pak Cecep kami mendapatkan banyak hal yang harus diperhatikan dalam menulis buku, Yang pertama adalah pengumpulan bahan-bahan mulai dari buku, hasil penelitian, jurnal, artikel, penggunaan media internet, sampai kepada makalah yang berhubungan dengan sumber data yang akan dipakai dalam pembuatan buku pengembangan media sederhana tersebut. Namun hal tersebut tidaklah sesederhana yang kita pikirkan karena data yang ada tidak bisa langsung diambil sekaligus sebagai bahan buku ajar yang kita kembangkan. Diperlukan kajian-kajian akan bahan yang akan kita pilih sebagai sumber dari buku yang akan kita buat.
Menurut Beliau hal yang perlu diingat ketika kita menulis buku adalah ketika kita menyadur kalimat atau kata orang lain dari suatu buku atau karya ilmiah. Maka  Kita harus dan diwajibkan untuk mencantumkan nama orang yang bersangkutan, karena hal tersebut berkaitan dengan HAKI atau hak karya intelektual seseorang tersebut. Lalu hal yang harus diperhatikan lagi adalah kita harus melihat untuk siapa buku tersebut dan  membedakan antara buku ajar dengan hasil penelitian karena akan sangat berbeda hasilnya. Buku yang dikembangkan ini adalah buku ajar maka dari itu terdapat silabus yang sudah disiapkan sebelumnya dan memiliki pedoman dengan perkuliahan yang ada. Setelah melakukan proses tersebut maka proses selanjutnya adalah menyerahkan draft yang telah jadi tersebut kepada editor. Fungsi editor tidak hanya  untuk memperbaiki EYD dan memperbaiki struktur kalimat, seorang editor juga memperbaiki gaya bahasa yang ada sehingga enak untuk dibaca. Menurut penuturan Pak cecep dari 200 Halaman lebih yang telah ia tulis, setelah diberikan kepada editor, halamannya menyusut drastis menjadi 160 halaman.
Kesulitan dalam pembuatan buku ini menurut pak Cecep dirasakan ketika teknologi yang biasa dipakai terus mengalami perkembangan. Sebagai contoh, dalam buku ini dipaparkan seputar pemakaian OHP/OHT  yang dalam perkembangannya sudah banyak digantikan oleh peran LCD-Projektor. Kedinamisan perkembangan teknologi tersebut, membuat penulis harus menyesuaikan penulisan dengan materi sebelumnya.
Kemudahan yang dirasakan oleh pak cecep adalah terbantunya pembuatan buku ajar ini dengan kemudahan akses teknologi. Dengan kemajuan dan kemudahan akses teknologi yang ada kita bisa lebih terbuka dengan informasi yang ada. Mulai dari artikel sampai e-book yang dapat didownload secara gratis dan sangat banyak di internet. Namun, hal yang harus diperhatikan kembali adalah, semua yang ada di internet itu belum tentu benar. Data yang disajikan belum tentu valid. Sebagai contoh wikipedia. Wikipedia dapat dengan mudah di ubah oleh orang lain sesuka hati mereka sehingga sangat rentan sekali.
Berikut hasil diskusi kelompok kami tentang apa yang perlu diperhatikan dalam menulis buku setelah menganalisis artikel dan hasil wawancara diatas.
Kami menyimpulkan 10 hal yang harus diperhatikan yaitu:
1. Harus Dintentukan materi apa yang dibuat
Membuat suatu buku ajar haruslah ditentukan dahulu materi yang akan dibahas, menentukan materi dapat disesuaikan dengan latar belakang dari penulis, karena jika penulis memiliki latar belakang yang sesuai  terhadap materi yang akan ditulis akan memudahkannya dalam menulis dan menyampaikan  pesannya kepada pembaca.
2. Sasaran pembaca
Menentukan sasaran untuk pembaca buku menjadi hal yang harus diperhatikan karena akan menjadi lebih bermanfaatkan jika mengenai sasaran yang sesuai, sasaran pembaca buku bisa dari kalangan pemelajar seperti siswa, mahasiswa, peserta pelatihan dan dari kalangan pembelajar seperti guru, dosen dan instruktur.
3. Sesuai  tujuan pendidikan nasional
Kita harus memperhatikan tujuan pendidikan nasional  negara kita, agar buku yang dibuat dapat mendukung ketercapaian tujuan pendidikan nasional kita. Buku teks pelajaran terdapat dalam salah satu unsur standar nasional pendidikan yakni sarana dan prasarana.
4. Mempelajari  Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
Langkah mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar dapat dilihat pada peraturan pemerintah tentang buku dan badan standar nasional pendidikan. Sebagai penulis sebaiknya kita wajib membaca dan memahami tentang peraturan pemerintah yang berkaitan dengan buku, terutuma buku teks pelajaran salah satu contohnya adalah Permendiknas tahun 2008 tentang buku.
5. Mengacu Pada Kurikulum
Kurikulum merupakan salah satu komponen dalam sistem pendidikan yang dapat berpengaruh terhadap komponen lain, kurikulum menjadi acuan kita dalam membuat teks pelajaran karena Kurikulum merupakan apa yang harus dipelajari siswa disekolah dan bagaimana metode yang digunakanya. Kurikulum menjadi acuan utama dalam menulis teks pelajaran. Sasaran, tujuan, materi/bahan, dan metode penyajian materi dan bahan terdapat didalam kurikulum.
6. Menggunakan tata bahasa yang formal dan disesuaikan
Tata bahasa dalam buku pelajaran sebaiknya menggunakan tata bahasa formal, penggunaan bahasa yang baik dan benar dapat mempermudah siswa memahami makna dari setiap kalimat. Agar semua memahami  penulis harus kembali menyesuaikan sasaran pembaca buku dengan bahasa yang digunakan, misalnya anak sekolah dasar jangan diberikan kata-kata yang sulit dipahami agar siswa tidak bingung tetapi menggunakan kata-kata yang mudah dipahami dengan siswa sekolah dasar. Penggunaan tata bahasa yang formal harus disesuaikan dengan pengetahuan kebahasaan penulis yang baik seperti memahami bahasa indonesia yang baku dan ejaan yang disesuaikan.
7. Memahami susunan buku ajar
Penulis harus memahami susunan dalam buku teks pelajaran mulai dari halaman depan (cover) hingga halaman terakhir penutup.
8. Menggunakan Ilustrasi yang menarik dan tepat
Ilustrasi dapat digunakan untuk mempermudah pembaca dalam memahami materi yang sulit dijelaskan melalui kata-kata dan mengurangi verbalisme agar tidak bosan, ini akan menjadi efektif jika sasarannya adalah anak sekolah dasar dimana siswa akan senang dengan adanya gambar-gambar.
9. Cantumkan Sumber
Dalam penulisan buku hendaknya kita menghargai sumber yang menjadi referensi kita dalam membuat buku dengan mencatumkan nama orang yang bersangkutan, karena hal tersebut berkaitan dengan HAKI atau hak karya intelektual seseorang tersebut.
10. Merevisi, Mengedit dan Menerbitkan
Ketika membuat buku untuk pembelajaran kita harus melihat lagi apakah yang dibuat sudah benar sesuai etika hingga sesuai dengan pengetahuan masa kini, untuk itu diperlukan revisi untuk menanganinya. Pengeditan dan penerbitan dapat dilakukan bersama penerbit agar mampu menyajikan buku yang menarik.
C. KESIMPULAN
Buku menjadi media yang masih digunakan hingga saat ini. Buku sebagai salah satu media dalam penyampaian ilmu pengetahuan menjadi alat yang beperan penting bagi pendidikan. Buku teks pelajaran merupakan buku yang digunakan dalam satuan pendidikan di indonesia. Oleh karena itu dalam penulisan buku pelajaran kita harus memperhatikan berbagai aspek sehingga buku yang dibuat tepat sasaran dan mampu mencerdaskan pembaca bukan membodohi pembaca. Sebagai seorang yang bergerak dalam dunia pendidikan kita harus mampu membuat buku yang lebih baik. Cara-cara penulisan buku pun harus diperhatikan agar buku menjadi lebih bermanfaat dan sekedar tidak menulis asal-asalan guna memenuhi kepentingan pribadi.
Banyak aspek yang perlu diperhatikan  dalam penulisan buku teks pelajaran seperti:
  1. Harus Dintentukan materi apa yang dibuat
  2. Sasaran pembaca
  3. Sesuai  tujuan pendidikan nasional
  4. Mempelajari  Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar
  5. Mengacu Pada Kurikulum
  6. Menggunakan tata bahasa yang formal dan disesuaikan
  7. Memahami susunan buku ajar
  8. Menggunakan Ilustrasi yang menarik dan tepat
  9. Cantumkan Sumber
  10. Merevisi, Mengedit dan Menerbitkan
Jika semua penulis buku teks pelajaran sudah memahami cara membuat buku yang baik dan benar kami rasa akan mempermudah kinerja guru dalam pembelajaran dan akan menarik lagi minat pembaca di indonesia yang kurang.

Tuesday, June 05, 2012

TA Difusi Inovasi Dalam pendidikan

 
TUGAS AKHIR
DIFUSI INOVASI PENDIDIKAN

 
Disusun oleh :   Bayu Febriawan (1215101941)
                                Hari Sugiarto  (1215101026)

“Inovasi Pemanfaatan TIK Sebagai Media Pembelajaran
Media                   : TIK
Mata Pelajaran : Matematika
Sasaran                                : Siswa Sekolah Jenjang SMP

Inovasi berarti ide atau gagasan atau praktek atau produk yang dianggap baru oleh masyarakat yang menggunakannya, dengan tujuan agar lebih efisien, efektif, relevan, berkualitas dan bermanfaat.
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mencakup dua aspek, yaitu Teknologi Informasi dan Teknolgi Komunikasi. Teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi. Teknologi komunikasi mencakup segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke perangkat lainnya.
Penguasaan TIK berarti kemampuan memahami dan menggunakan alat TIK secara umum termasuk komputer (Computer literare) memahami informasi (information literate).
Saat ini, teknologi informasi dan komunikasi mengalami perkembangan yang sangat pesat dan secara fundamental telah membawa perubahan yang signifikan dalam percepatan dan inovasi penyelenggaraan pendidikan.
Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia.Matematika merupakan mata pelajaran wajib di seluruh jenjang pendidikan, tujuan utama dari mata pelajaran ini adalah untuk membekali siswa dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta mampu bekerjasama.
Tetapi ironisnya adalah pelajaran matematika oleh sebagian besar siswa dianggap “sangat menakutkan” sehingga siswa kurang motivasi dalam mengikuti proses pembelajaran dan berakibat banyaknya siswa yang tidak tertarik pada pelajaran matematika dan standar kompetensi yang diinginkan mata pelajaran ini tidak tercapai secara optimal

Sunday, April 22, 2012

INOVASI SDN Parung 01 dan SDN Jeletreng

anak sd (wikipedia.com)
     SD atau sekolah dasar adalah sekolah formal jenjang pertama di indonesia yang ditempuh dalam waktu 6 tahun dimulai dari kelas 1 sampai kelas 6 dan mengikuti UN (dahulu Ebtanas) untuk dapat melangkah ke jenjang berikutnya.
hal yang saya mau bahasa adalah situasi di SDN Parung 01 terutama SDN Jeletreng yang tidak bisa anda temui dimanapun kecuali di parung.
sesuai dengan wawancara yang saya lakukan dengan satu dari masing-masing SD maka berikut cerita yang saya dapatkan

Sunday, April 01, 2012

inovator atau apa?


TERMASUK APAKAH LULUSAN DARI TEKNOLOGI PENDIDIKAN MENURUT TEKNOLOG PENDIDIKAN REG 2010

INOVATOR 100% : Koresponden yang menjawab INOVATOR 100%  Berfikir bahwa lulusan teknologi pendidikan akan menjadi seorang inovator
INOVATOR 50% : Koresponden yang menjawab INOVATOR 50% berfikir bahwa lulusan teknologi pendidikan idealnya menjadi seorang inovator


Data Statistik per-tanggal 31 Maret 2012
Mengapa saya mengelompokan dalam tiga kelompok,
·         Yaitu INOVATOR 100% yang haqul yakin bahwa lulusan TP akan menjadi seorang inovator,
·         INOVATOR 50% yang berkesimpulan bahwa lulusan TP dapat menjadi INOVATOR maupun Early Adoppter, dan mayoritas mengambil pilihan ini. Bagaimana saya bisa menyimpulkan bahwa mereka termasuk dalam golongan ini, saya melihat dari kata-kata mereka seperti ‘Idealnya, Semestinya, dan Seharusnya’ yang menyatakan bahwa mereka kurang yakin bahwa semua lulusan TP akan menjadi seorang inovator.
·         Dan yang Tidak menjawab karena menurut saya ‘dia’ tidak menjawab sama sekali bahkan tidak menyinggung ke arah sana.

Sunday, March 11, 2012

what do you think? facebook, an inovation or else?

BAB I
PENDAHULUAN
1.       Latar  Belakang Masalah
Sistem belajar jarak jauh sudah dikembangkan sejak beberapa belas tahun lalu mulai dari surat-menyurat, korespondensi, sampai ke media internetpun sudah dilakukan sebagai inovasi dari pembelajaran. Lalu ketika penulis memasuki semester 4 ada mata kuliah bernama DIP atau Difusi Inovasi Pendidikan yang menggunakan media internet melalui jejaring sosial Facebook sebagai sarananya. Bapak Sitepu dan Ibu Retno lah sebagai Dosen kami memberi tugas mengenai apakah pembelajaran melalui jejaring sosial berupa Facebook merupakan Inovasi atau bukan sesuai dengan teori Rogers dan Reigeluth dan membuat Diagramnya mengenai Berapa banyak yang bilang yes,no ataupun yes&no.
2.       Identifikasi Masalah
Inovasi adalah pembaharuan atau sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya, tetapi mengacu pada teori Rogers dan Reigeluth pengertian mengenai inovasi tersebut terdapat perbedaan yang mencolok dan tentu setiap orang memiliki pendapat yang berbeda-beda mengenai makna inovasi tersebut menurut kedua ahli tersebut dan pastinya jawaban yang bervariasi. Maka dari itu seberapa banyak kah yang menganggap bahwa pembelajaran melalui jejaring sosial tersebut merupakan Inovasi dan seberapa banyak yang menjawab bahwa belajar melalui jejarin gosial tersebut bukan merupakan inovasi, atau bahkan kedua-duanya dapat dibilang inovasi dan bukan inovasi?.